Menu Close

BALADA '65

Kisah Hidup "Kasidi Cipto Sudadyo"

“…saya seharusnya sudah di bunuh…” (Kasidi)

“Pada thn 1966 saya seharusnya sudah di bunuh bersama 72 orang kawan-kawan yang dianggap organisasi yang berafiliasi ke dalam PKI, namun Tuhan berkehendak lain. Truk yang kami tumpangi tiba-tiba mogok di tengah jalan setelah sampai di daerah sodong dan akhirnya kami di pulangkan kembali ke Kamp Tahanan di Pulau Nusakambangan”, tatap kosong Bapak Kasidi Cipto Sudadyo, 83 tahun.

Pada waktu sebelum meletusnya tragedi 65/66, beliau merupakan Ketua Pemuda Rakyat Jaten Karanganyar dan pernah kuliah di UNSRA (Universitas Rakyat). Tanggal 5 November 1965  telah merubah jalan hidupnya ketika P Kasidi ditangkap RPKAD. Saat itu Pak Kasidi yang menikahi seorang gadis yang menjadi guru TK punya anak 1 berusia 8 tahun. Pak Kasidi lalu di jebloskan ke kantor Polsek Tasikmadu lalu di pindah ke kantor CPM dan akhirnya di buang ke KampTahanan Pulau Nusakambangan. 

Selama 4 tahun di Nusakambangan Pak Kasidi bertugas di kelompok yang dinamakan “Kelompok Gergaji” yang bertugas membuat perabot dari kayu/mebel lalu di jual yang hasilnya dinikmati oleh petugas, “…kami hanya jadi sapi perah tak mendapat bagian dari hasil penjualan mebel sedikitpun”, kenangnya. Kemudian beliau di buang, dipindahkan ke Kamp Tahanan di Pulau Buru. Ia menghuni unit 7 dan diperintah untuk menjadi Kepala Bagian Pertanian yang bertugas menanam padi hingga panen. Sambil berkaca-kaca Ia melanjutkan cerita, 

“…Seperti yang kami alami di Nusakambangan, kami yang menanam sekaligus memanen padi, namun kami tidak diperbolehkan menikmati hasilnya sebutirpun. Akhirnya kami nekat membuat kelompok pencuri untuk mencuri dan menyembunyikan hasil panen kami sendiri dengan membuat gudang di bawah tanah seluas 10 x 10 meter. Apa yang kami lakukan ini memang beresiko, kalau sampai ketahuan, bisa hancur lebur badan kami bahkan nyawa taruhannya, tapi kami semua sepakat lebih baik mati dari pada kami ditindas hanya kelaparan.”,tandasnya. “Jadi, hasil panen padi yang kami curi kami kumpulkan di gudang buat menghidupi semua kawan kawan”, tambahnya.

Kemudian pada tahun 1977 Pak Kasidi di bebaskan, “…kami para ‘lulusan’ Pulau Buru punya komitmen bersama, biarpun komitmen ini tak tertulis, tapi ini sudah menjadi semacam sumpah bersama, yaitu, apapun yang terjadi dan apapun keadaan yang menimpa sepulang nanti, kita tidak boleh marah, kita harus menerima apa adanya sebab ini adalah sebuah tragedi yang di buat rezim Suharto. Itu kesepakatan kami” jelasnya dengan bangga. 

 

“…Nasi telah jadi bubur, tapi semangat tak pernah luntur, saya masih tetap berdiri tegak berjuang ditengah usia yang menua. Salam dari sekber 65 Karanganyar semoga pengalaman hidupku mampu melegakan sesaknya dada dari penindasan masa lalu…”

Ia kemudian melanjutkan cerita, “Ternyata setelah sampai dirumah aku kaget, saat istriku menangis & bersimpuh di kakiku sambil membawa 4 orang anak, lalu istriku sambil menenangkan diri, dia bercerita, bahwa sepeninggal Pak Kasidi dibawa Militer untuk ditahan, dia selalu mendapatkan pelecehan seksual dari tentara, aparat desa dan para pemuda nasionalis”. Untuk menghindari usaha pelecehan seksual tersebut, Bu Kasidi menikahi seorang pemuda dengan secara terpaksa secara siri dan membuahkan 3 orang anak. Karena mengingat komitmennya di Pulau Buru maka kemarahannya mereda dan saat menanyakan suami istrinya, ternyata dia ketakutan dan melarikan diri. “…maka saya bertanya kepada istri apakah mau meneruskan dengan saya atau dengan suaminya yang baru.”, katanya.  

Dengan mantap dan tegas Bu Kasidi mengatakan bahwa dia masih sangat mencintai Pak Kasidi sehingga dengan rasa iklas dan penuh kasih Pak Kasidi menerima kembali istri sekaligus 3 anak hasil dari hubungan dnegan suaminya yang baru, “..mereka saya didik seperti anakku sendiri yang akhirnya kami dikaruniai 1 orang anak lagi, jadi anak kami semua berjumlah 5 orang”, kenangnya. 

Mereka di didik secara adil tanpa membeda-bedakan, mereka sudah dianggap sebagai anak kandung sendiri. Guna menghidupi istri dan 5 orang anaknya, Pak Kasidi menerapkan keahlianya dalam membuat kerajinan mebel. Kemudian kerajinan mebel tersebut sangat laris luar biasa. Banyak pemesan dari berbagai kalangan, bahkan mayoritas pemesan berasal dari kalangan kelas menengah keatas. “Mebel buatan saya terbuat dari kayu jati mas, dan saya buat secara halus dan presisi, jadi bukan mebel sembarangan yang harganya murah itu, dari pemilihan jenis kayunya saja tak sembarangan saya memilihnya, harus yang berkualitas”, tandasnya. Dari hasil mebel itulah Pak kasidi mampu mengkuliahkan 5 orang anaknya. 

Mereka sekarang mampu bekerja secara mapan di berbagai instansi, walaupun memang bukan Instansi milik Pemerintah sebab tidak mungkin “anak PKI” bisa diterima jadi Pegawai Negeri Sipil. Namun walaupun bekerja di Instasi Swasta mereka mendapat jabatan yang lumayan tinggi.

“Keberhasilan saya dalam membuat mebel ini sebagian hasilnya saya sumbangkan untuk membantu kawan kawan senasib yang tidak mampu. Saya membantu biaya sekolah anaknya dan juga modal usaha. Kini ketika usia menggerus kemampuannya, Pak Kasidi menyerahkan tanggung jawab pengelolaan mebel kepada anaknya yang nomor 3. “..dia sanggup dan kemudian keluar dari pekerjaannya. Sekarang saya hanya menikmati hari tua saja, pensiun” katanya dengan mantap. Sekarang Pak Kasidi aktif berorganisasi di Sekber 65. “..sayang kondisi ekonomi tak seperti dulu,sebab mebel sudah jadi hak anak saya, sehingga menjadi minimnya bantuan ke Sekber 65.

“Nasi telah jadi bubur, tapi semangat tak pernah luntur, saya masih tetap berdiri tegak berjuang ditengah usia yang menua. Salam dari sekber 65 Karanganyar semoga pengalaman hidupku mampu melegakan sesaknya dada dari penindasan masa lalu.” Pungkasnya.

 

<sekber65/red>

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Welcome to Our Site

Got it!
X