Menu Close
Spread the love

Kisah Hidup

VERONIKA SUMIYATI

"Kemenangan Sosial Lebih Penting Daripada Kemenangan Ekonomi"

“Ibu Betet, demikian orang-orang biasa memanggilku” ujar pemilik nama lengkap Veronika Sumiyati ini dalam sebuah tulisannya. Dia sendiri tidak bisa menjelaskan secara pasti dari mana panggilan itu berasal. Apakah dikarenakan bentuk hidungnya yang menyerupai hidung burung betet, meskipun bila diamat-amati secara lebih teliti tidak juga persis menyerupai; ataukah dikarenakan cara bertuturnya yang terkesan lugas, lincah, tegas dan energik bak burung yang sedang berkicau. Menginjak usia senjapun, kesan bicara yang lugas dan tegas masih tersisa dari Ibu empat anak ini. Lahir dan dibesarkan dari keluarga yang relatif terpandang, beliau merupakan anak bungsu dari 14 bersaudara dimana hanya 5 diantaranya yang sempat tumbuh hingga besar.

Secara fisik tubuhnya termasuk kecil, mungkin bisa dikatakan mungil untuk ukuran pemudi-pemudi sebayanya saat itu. Namun dari kekecilan dan kemungilan tubuh itulah, beliau terselamatkan dari derita siksaan penjara berkepanjangan, dari maut kematian sebagaimana telah merenggut kedua Srikandi Gerwani lainnya. Meskipun kecil dan mungil tubuh yang dimilikinya sama sekali tidak mewakili dan menggambarkan setumpuk aktifitas yang dijalaninya. Menghadiri aktifitas yang satu ke aktifitas yang lain, tampil dari satu panggung ke panggung lain, merupakan contoh berbagai aktifitas yang dijalaninya semasa muda hingga kini. Di lapangan dirinya tampil sebagai atlet Volley ataupun menjadi Mayoret Drum Band meliuk-liuk bak kupu-kupu di lapangan, sementara di panggung kesenian tradisional dirinya seringkali terlibat dalam pementasan Ketoprak, Wayang Orang, Karawitan, Laras Madyo, Keroncong hingga Paduan Suara Gereja. Penampilan di berbagai event itulah yang kemudian menjadikan dirinya sebagai salah satu “bintang panggung” yang cukup populer saat itu. Menjadikan dirinya dikenal secara luas baik mereka yang bersimpati pada dirinya maupun mereka yang berseberangan dengan dirinya.

Sumiyati lahir dari seorang ayah  yang bernama Kabit Ronodimejo, merupakan anak seorang Lurah; sementara Ibu yang bernama Kasinem Ronodimejo merupakan anak seorang Bayan. Meskipun tak pernah merasakan dekapan dan kasih sayang dari Sang Ayah karena sejak usia setahun, sang ayah telah menghadap Sang Khalid. Namun hal ini tak mengurangi kebahagiaan dirinya dalam menjalani hidup selanjutnya. Profile seorang perempuan desa yang mampu mengayomi dan melindungi keluarga, meskipun Bu Kasinem lahir dari keluarga petani dan buta huruf, patut kita sematkan pada diri beliau. Menghidupi dan membesarkan kelima anak-anaknya sebagai orang tua tunggal tidak menjadikan dirinya menghilangkan dan melupakan fungsi sebagai seorang kepala keluarga. Dirinya mampu menghantarkan kelima anaknya hingga bisa berkarya ditengah-tengah masyarakat. 

  Bukan hanya sekedar mampu merawat, mengayomi dan membesarkan anak-anaknya sebagaimana layaknya keluarga utuh, Ibu Kasinem termasuk orang tua yang relatif terbuka dan berpandangan maju dalam segala hal. Modern untuk istilah sekarang. Bukan hanya untuk ukuran masyarakat saat itu bahkan untuk ukuran masyarakat yang ada saat ini. Dari kelima anaknya yang tumbuh hingga besar, apakah itu perempuan atau laki-laki, masing-masing telah berhasil melakoni dan menjalani hidup hingga menjadi pribadi yang mandiri. Kakak tertua yang kebetulan seorang perempuan, telah aktif semenjak muda dan terlibat dalam Perjuangan Kemerdekaan menjadi anggota PETA sebagai tenaga kesehatan. Lalu kakak kedua yang kebetulan laki-laki aktif menjadi anggota PESINDO dan pada tahun 1957 menjadi anggota DPR.

Beliau sempat mau dilantik menjadi Bupati Klaten seandainya tidak meninggal sehari sebelum pelantikan. Kakak yang ketiga adalah perempuan dan berkerja sebagai sipil AMN Magelang serta menjadi Komandan Suswati AMN. Kakak yang keempat seorang laki-laki dan masuk menjadi siswa Akademi Militer Negara/AMN Magelang dan mendapat kepercayaan untuk menjadi komandan Korps Drum Band AMN. Namun sayang dalam konflik 1965 dirinya ditahan di Magelang dan kemudian dipindah ke Ambarawa hingga 14 tahun lamanya. Ibu Betet sendiri bersuamikan seorang Tentara dan sekarang masih aktif di Pepabri. Sehingga bisa dikatakan selain sebagai keluarga pejuang, keluarga besar Bu Betet termasuk Keluarga Militer.

“…Hanya Tuhanlah penolongnya saat itu. Dan ternyata Tuhan mendengar apa yang dipintakan dan dipanjatkan oleh ciptaannya yang sedang teraniaya. Tuhan berkata dan berkehendak lain, memiliki skenario tersendiri yang belum beliau ketahui….”

Ibu Betet sendiri sebagai anak ragil termasuk profile perempuan yang bukan hanya aktif dalam kehidupan kemasyarakatan, namun juga aktif dalam bidang pendidikan. Melek Pendidikan untuk istilah Bahasa Jawanya. Masuk SR/SD untuk istilah sekarang ketika usianya menginjak 6 atau 7 tahun, sementara anak-anak lain pada umumnya menginjak bangku Kelas 1 SR ketika berusia 10 tahun. Ketika menginjak Kelas 3 SR dirinya sudah terlibat aktif dalam kepramukaan dan menjadi salah satu pengajar di berbagai sekolah yang ada di Jatinom, sementara di masyarakat tempat dirinya tinggal dipercaya menjadi Ketua Karangtaruna/Sinoman. Maka bisa dikatakan bahwa Bu Betet termasuk anak yang paling muda diantara teman sekelas lainnya. Dalam usia 17 tahun jenjang pendidikan setingkat Sekolah Menengah sudah diraihnya bahkan sudah dilaluinya dengan predikat nilai yang baik. Sebuah ukuran pendiidkan yang cukup tinggi bagi masyarakat kita di awal tahun 1960-an kala itu. Seorang perempuan berlatar belakang gadis pedesaan, bisa menyelesaikan sekolah menengah dan segera melanjutkan ke Universitas Utoyo Ramelan/cikal bakal Universitas Negeri Surakarta/ andai konflik di tahun 1965 tidak terjadi. Konflik di dalam tubuh internal Tentara, demikian banyak analisa menyebutkan, telah merenggut masa-masa indah dan keemasan Bu Betet dan menghambat dirinya untuk terus mengepakan sayap-sayap besinya terbang lebih tinggi menyebar benih-benih kehidupan di masyarakat. Pagi hari setelah malam sebelumnya di Jakarta meletus persitiwa 1965, dirinya sempat mengikuti Masa Orientasi Mahasiswa / Perpeloncoan di Universitas Utoyo Ramelan sebelum akhirnya diumumkan bahwa masa pedidikan di Perguruan Tinggi ditunda hingga batas waktu yang tak bisa dipastikan. Dunia Perguruan Tinggi, sebuah dunia pendidikan yang akan mampu mencerahkan dan mengentaskan seseorang dari kebodohan dan sudah di depan mata akhirnya hilang sirna tak berbekas. Sebuah dunia impian dan dambaan bagi mereka yang ingin melepaskan diri dari belenggu kebodohan tak bisa dijalaninya hanya karena peristiwa 1965 keburu meletus.  

Geger di Jakarta dan pembatalan masa pendidikan di Universitas Utoyo Ramelan memaksa dirinya untuk pulang ke rumah di Jatinom, Klaten. Saat itu suasana rumah sudah tidak kondusif. Geger konflik horisontal mulai meluas. Bahkan Keluarga Besar Kabit Ronodimejo terpaksa pindah ke Jatinom untuk menghindari kejaran dan amarah massa serta tangkapan tentara. Selama tiga bulan lamanya diri dan keluarganya harus menjadi pengungsi. Akhirnya pada tanggal 28 Desember 1965 untuk meredam gejolak konflik yang muncul serta mengurangi dampak negatif lainnya, bersama dengan Ibu Suwarni berdua menyerahkan diri ke Polsek Jatinom. Waktu itu jam 20.00 WIB ketika tiba-tiba terdengar suara “Bunuh Gerwani, Sate Gerwani” yang entah darimana datangnya. Sebagai seorang manusia biasa, apalagi sebagai perempuan, meskipun dirinya sudah memperkirakan dan mempersiapkan diri terhadap segala hal yang mungkin terjadi tetap saja membuat nyiut nyalinya. Hanya kepercayaan pada Sang Penciptalah yang membuat dirinya tetap yakin dan pasrah terhadap apapun yang terjadi. Meskipun pada akhirnya hanya semalam beliau menghuni Polsek Jatinom, namun perlakuan yang ia terima dari Komandan Seksi 1 Yonif 405 malam itu akan terus membekas dalam memori ingatannya. Memori yang terus terpatri dalam-dalam hingga saat ini.   

Ketika malam menyerahkan diri ke Polsek Jatinom, ternyata sudah ada 13 tahanan perempuan anggota Gerwani lainnya. Sebelum diinterogasi layaknya tahanan politik perempuan, dirinya berkesempatan untuk berkoordinasi dengan kedua pimpinan Gerwani lainnya yang terlebih dahulu telah diamankan guna mengambilalih tanggungjawab terhadap apa yang terjadi. Di pundak mereka bertigalah, dirinya dan Bu Mariam alias Bu Lurah serta Bu Sumarni sebagai Trio Srikandi Gerwani Jatinom, semua beban tanggungjawab kesalahan seharusnya ditimpakan. Bukan kepada kader-kader anggota yang sebetulnya tidak tahu menahu tentang jalannya roda organisasi. Sebagai Trio Srikandi Gerwani Jatinom mereka bertigalah yang harus mati terlebih dahulu seandainya memang itu harus terjadi. Sebagai seorang pimpinan dengan berbesar hati mereka meminta pada aparat untuk melepas tahanan perempuan lainnya karena menurut mereka tak selayaknya perempuan-perempuan itu di tahan. Para perempuan tersebut hanyalah sekedar massa, hanyalah sekedar anggota organisasi yang tak selayaknya menerima sesuatu yang bukan tanggungjawab mereka. Maka Trio Srikandi Gerwani Jatinomlah selaku penanggungjawab roda organisasi yang seharusnya disalahkan dan menerima segala konsekuensi yang terjadi. Begitu kira-kita kesepakatan diantara mereka bertiga.

Setelah kesepakatan tersebut diambil, giliran dirinya mendapatkan interogasi. Bukan interogasi formal sebagaimana layaknya hukum berlaku. Dihajar, ditendang dan dipaksa mengakui perbuatan yang tidak pernah mereka lakukan. Tak memandang dirinya sebagai seorang perempuan. Dengan bentuk tubuh yang kecil dan mungil, perlakuan Sang Komandan seakan diluar batas kemanusiaan. Bahkan dirinya sempat dusuruh minum air kencing Komandan Seksi 1 Yonif 405. Semalam suntuk beliau tidak bisa tidur dikarenakan menahan rasa sakit, bukan hanya fisik namun juga psikis. Remuk redam tubuh ini. Tak pernah dalam hidup beliau sebelumnya menerima perlakuan yang sedemikian merendahkan harkat martabat dan nilai-nilai kemanusiaan. Sebuah nilai dan ajaran yang sangat bertentangan dengan nilai yang selama ini dia yakini. Ditengah keterpurukan dan penderitaan tersebut, masih tersisa keyakinan dalam dirinya akan arti Tuhan. Berdoa dan pasrah pada yang membuat dan menciptakan kehidupan, hanya itu sisa-sisa kekuatan yang ada pada dirinya. Hanya Tuhanlah penolongnya saat itu. Dan ternyata Tuhan mendengar apa yang dipintakan dan dipanjatkan oleh ciptaannya yang sedang teraniaya. Tuhan berkata dan berkehendak lain, memiliki skenario tersendiri yang belum beliau ketahui.

“…Saya kasihan sama Mbak. Masak anak masih ingusan, anak sekecil Mbak kok ditahan. Kok dicampur dengan tahanan lain yang sudah dewasa” ujar Sang Komandan menenangkan Bu Betet…” 

Pagi dini hari setelah malam sebelumnya menerima perlakuan tak manusiawi dan belum hilang bekas-bekas lebam membiru di sekujur tubuh, belum kering tetesan air mata yang membasahi kedua pipinya, anak buah Komandan Seksi 1 mendatangi dirinya. Sekaligus meminta dirinya untuk pindah ke Seksi 1. Atas perintah Komandan katanya saat itu. Betapa bayang kematian dan kengerian menghampiri dirinya. Betapa malaikat pencabut nyawa sedang menanti,  pikirnya. Dengan isak tangis dan tetesan air mata, dengan langkah kaki yang terasa berat tak seberat langkah-langkah kaki sebelumnya, memaksa dirinya untuk melangkah menuju Sang Pencabut Nyawa. Pagi itu juga, dirinya harus segera pindah dan terpisah dengan tahanan lainnya. Apakah hanya untuk sementara atau untuk selama-lamanya, dirinya juga tidak tahu. Hanya seorang diri akhirnya Bu Betet berpindah ke Kantor Seksi 1. Ketika akhirnya bertemu langsung dengan Komandan Seksi 1, teka-teki itu mulai terjawab dan terkuak.  

“Kenapa nangis terus” tanya Komandan Seksi 1

“Saya takut Pak” jawab Bu Sumiyati sambil memegang bekas-bekas luka lebam dan diiringi isak tangis.

“Takut kenapa”

“Saya takut kalau terjadi apa-apa pada saya, saya takut akan terjadi sesuatu pada saya seperti yang ada di berita-berita itu” tangis Bu Sumiyati.

“Jangan takut Mbak” jawab Komandan.

“Saya kasihan sama Mbak. Masak anak masih ingusan, anak sekecil Mbak kok ditahan. Kok dicampur dengan tahanan lain yang sudah dewasa” ujar Sang Komandan menenangkan Bu Betet.

Sedikit pembicaraan dengan Sang Komandan belum mampu menghilangkan rasa ketakutan yang terus mendera dirinya. Sebuah ketakutan yang sangat manusiawi, bukan ketakutan dikarenakan kecengengan. Betapa berita-berita yang terdengar di Radio hadir dihadapan dirinya secara langsung. Berita-berita mengenai pembunuhan terhadap orang-orang yang dianggap sebagai PKI hadir terus menerus, baik lewat Radio yang menjadi satu-satunya alat komunikasi paling cepat saat itu, hingga berita yang menyebar dari mulut ke mulut. Dengan postur tubuh yang relatif kecil dan mendekati mungil jika dibandingkan dengan ketiga belas tahanan lainnya, ternyata memunculkan rasa iba tersendiri dari Sang Komandan. Meskipun sudah 17 tahun usianya saat itu, orang-orang masih memandang dan menganggap dirinya masih anak-anak. Masih ingusan istilahnya. Meskipun dalam beberapa kesempatan dikemudian hari dirinya selalu meyakinkan pada para interogator bahwa dirinya termasuk salah satu Pimpinan Gerwani Jatinom dan yang seharusnya menerima segala bentuk tanggungjawab terhadap apa yang terjadi. Namun satu hal yang tak ia ungkapkan pada para interogator. Bahwa sebenarnya jam terbang organisasinya bukan hanya sebatas tingkat kecamatan semata namun sudah merambah tingkat kabupaten. Namun penjelasan tersebut diatas masih tetap tak merubah pandangan dan persepsi mereka mengenai Bu Betet. Dirinya masih diangap sebagai anak umbelen, istilah jawanya. Dirinya tetap diminta oleh Sang Komandan untuk menempati dan membantu kerja-kerja rumah tangga di Seksi 1. Mungkin lebih tepat dikatakan sebagai Asisten Rumah Tangga untuk istilah sekarang ini. Dari mengurus keperluan dapur, mamasak dan menyiapkan makanan hingga membersihkan dan mengepel lantai. Mengepel dan membersihkan lantai bekas ceceran darah, ceceran darah kawan seorganisasi lain, menjadi tekanan batin tersendiri.

Secara umum dengan menempati Seksi 1 sebetulnya dirinya terbebas dari hukuman dan siksaan sebagaimana diterima oleh dua Pimpinan Gerwani lainnya yang masih mendekam di Polsek. Namun hukuman lain, dalam bentuk tekanan batin harus ia jalani setiap kali membersihkan dan mengepel lantai yang masih berceceran darah. Darah kawan seorganisasi lainnya. Dengan suara berat, terbata-bata serta meneteskan air mata dia berujar:

Karena sudah menjadi janji saya ketika dipekerjakan di Seksi 1. Saya kerja di Seksi 1 itu setiap hari harus membersihkan, mengepel darah teman-teman saya. Setiap saaat saya bermandikan air mata. Saya janji dengan diri saya, kalau Tuhan mau mengambil nyawa saya sudah siap. Tapi kalau saya masih dikasih hidup, saya ingin meneruskan perjuangan dari rekan-rekan saya. Saya ingin menunjukan pada rakyat bahwa rekan-rekan saya tidak salah.

Setelah tiga hari beliau ditahan dan ditempatkan di Seksi 1, atas permintaan ketiga pimpinan Srikandi Gerwani Jatinom maka tahanan perempuan lainnya mulai dibebaskan satu persatu. Dan hanya tinggal mereka bertiga yang masih tetap ditahan dan ditempatkan secara terpisah untuk mempertanggungjawabkan segala tuduhan. Tuduhan bahwa Gerwani telah mempersiapkan sebuah kudeta, bahwa Gerwani telah ikut menyayat tubuh para Pahlawan Revolusi di Lubang Buaya, sebuah tuduhan yang hingga akhir hayat hidup tak pernah sama sekali terlintas dalam benak pemikiran mereka. Kedua pimpinan yaitu Bu Lurah dan Bu Marni ditahan di Polsek, sementara Bu Betet ditempatkan dan dipekerjakan di Seksi I. Sebagai seorang pimpinan, mereka bertiga tahu betul apa konsekuensi yang harus mereka hadapi. Sehingga dalam pemikiran mereka, tidak selayaknya perempuan-perempuan anggota Gerwani lainnya itu di tahan. Hanya mereka bertigalah yang layak ditahan sebagai konsekuensi seorang pimpinan, meskipun hingga akhir hayat mereka tidak tahu kesalahan apa yang telah mereka perbuat.

Kamp Plantungan. /dok.sekber65

“…“saya sendiri dipaksa untuk melihat dan menyaksikan semua itu” sambil masih menitikan air mata dan suaranya masih terasa serak Bu Betet menjelaskan. …”

Tiga bulan lamanya berlalu setelah para tahanan perempuan mulai dibebaskan semua, tinggal Trio Srikandi Gerwani yang tetap diamankan. Sebuah peristiwa pilu dan tragis terjadi. Muncul dihadapan mata kepala Bu Betet secara langsung. Sebuah peristiwa yang menyajikan kekejian dan watak sesungguhnya dari Rejim Kekuasaan yang sedang merangkak menuju tahta yang berlumuran darah. Tahta kekuasaan yang harus menumbalkan nyawa ribuan bahkan mungkin jutaan orang yang dituduh PKI dan memenjarakan ratusan ribu orang tanpa proses pengadilan. Peristiwa itu adalah: .

“Mereka berdua, Bu Lurah dan Bu Marni dipaksa untuk menyanyikan lagu Genjer-genjer dengan bertelanjang tanpa sehelai kainpun menempel di tubuhnya. Hanya seutas tali kain yang menutupi kemaluan mereka berdua, sebelum akhirnya dieksekusi mati” dengan suara teriris dan terbata-bata serta menitikan air mata Bu Betet menceritakan peristiwa tersebut.

“Tempatnya seperti yang ada dalam cover majalah Tempo” sambil mengingatkan akan cover Majalah Tempo edisi 1 – 7 Oktober 2014 yang secara khusus mengupas Pengakuan Algojo 1965.

“saya sendiri dipaksa untuk melihat dan menyaksikan semua itu” sambil masih menitikan air mata dan suaranya masih terasa serak Bu Betet menjelaskan.  

Sebuah tragedi kelam yang mungkin akan terus mengiang dalam ingatan dan akan terus menghantui dirinya sepanjang hidup. Sebuah perlakuan diluar batas-batas nilai kemanusiaan apapun latar belakang alasannya. Sebuah ironi nilai-nilai kemanusiaan yang tak perlu terjadi lagi. Pembunuhan, eksekusi terhadap dua pimpinan Gerwani Jatinom seakan membuka ingatan kita pada sebuah buku yang berjudul In The Time of Butterflies karya Julio Alvares yang diadaptasi ke dalam film dengan judul yang sama. Buku dan Film ini bertutur dan berlatar tahun 1950 hingga 1960 tentang perlawanan Rakyat Dominika melawan kekuasaan rejim Militer Jenderal Leonidas Trujilo yang berkuasa sejak tahun 1930 hingga 1961. Dalam rentang kekuasaannya Sang Jenderal telah membunuh lebih dari 30.000 rakyat Dominika, membatasi ruang gerak masyarakat terutama perempuan. Para wanita dilarang mengenyam dunia pendidikan dari tingkat dasar hingga Perguruan Tinggi, terutama melarang wanita berkiprah sebagai pembela hukum. Las Mariposas, Sang Kupu-kupu dari Republik Dominika, adalah tokoh-tokoh perempuan yang mendobrak tradisi yang menindas perempuan Dominika. Kematian dari Las Mariposas itulah yang dalam enam bulan berikutnya mampu menginspirasi dan mengkanalisasi penjatuhan Diktaktor Trujilo.

Las Mariposas adalah sebutan bagi empat perempuan bersaudara Keluarga Mirabal, keluarga petani kaya yang tinggal di areal peternakannya yang luas. Keluarga Mirabal mempuanyai 4 anak yang kesemuannya perempuan. Mereka adalah Patria, Dede, Minerva, dan Maria Teresa (Mate). Dari keempat perempuan bersaudara tersebut, Minerva adalah anak yang aktif dan kritis. Masalah mulai muncul ketika diri dan kakaknya ingin melanjutkan pendidikan ke kota hingga akhirnya berhasil mencapai gelar Kesarjanaan dalam bidang Hukum. Dalam perjalanan waktu meraih gelar kesarjanaan tersebut, Minerva bersaudara bersentuhan dengan dunia aktifis yang sedang menggalang kekuatan melawan Jenderal Trujilo. Hingga singkat cerita, dirinya melibatkan diri dalam perlawanan melawan Sang Jenderal yang membawa diri dan saudarinya, Mate, mati terbunuh oleh kaki tangan Sang Jenderal. Kematian Los Mariposas bersaudara menjadi kanalisasi perlawanan-perlawanan Rakyat Dominika yang memuncak pada jatuhnya kekuasaan Trujillo. Hari kematian mereka tanggal 25 November di Amerika Latin ditetapkan sebagai hari internasional melawan kekerasan terhadap perempuan.

Ternyata dimanapun berada, Rejim Militer akan selalu menindas dan membungkam suara-suara kritis dari masyarakat. Tidak pandang bulu apakah si korban perempuan atau laki-laki. Kematian dan eksekusi kedua pimpinan Gerwani Jatinom dianggap sebagai salah satu “tumbal” untuk memuluskan kekuasaan yang sedang dibangun, sementara kematian dan eksekusi Minerva bersaudara sebagai sarat untuk melanggengkan kekuasaan yang tengah berjalan. Kematian dan eksekusi Minerva bersaudara dilakukan dengan cara-cara licik dan tersembunyi menghindari kecurigaan publik, sementara eksekusi dan pembunuhan pimpinan Gerwani Jatinom dilakukan secara kasat mata di ruang publik tanpa hendak menyembunyikan kejadian itu dimata mereka. Bertempat di Polsek Jatinom, kedua pimpinan Gerwani Jatinom dipaksa untuk menyenandungkan lagu Genjer-genjer sebagai lagu kematian. Kematian dan eksekusi Mirabal bersaudara mengerucut pada kejatuhan Rejim Militer enam bulan kemudian, sementara kematian dan eksekusi pimpinan Gerwani melahirkan sebuah kekuasaan yang bertahan hingga 30 tahun kemudian. Meskipun pada akhirnya nanti, kekuasaan Orde Baru juga ditumbangkan oleh kekuatan massa yang dikanalisasi atas penculikan aktifis PRD dan penembakan mahasiswa Tri Sakti. De Javu, istilah bahasa Perancisnya.

Para Tapol di Kamp Plantungan

“…“Benar-benar saya tidak rela kalau anak-anak sampai putus sekolah. Waktu usahaku maju /dagang pakaian, bolo pecah belah, emas-emasan kalau ada yang memesan/ dekorasi, rias, menjahit, tidak sedikit anak yang saya tolong untuk sekolah. Baik berasal dari keluarga dekat maupun orang lain, baik hanya sekedar omongan, tenaga maupun biaya semampu saya” jelasnya….”

Perang datan Ngluruk, Menang datan Ngasorke

Bagaimanapun juga hidup harus terus berjalan, perjuangan harus dilanjutkan, kebenaran harus dikabarkan. Sebagai orang yang dipekerjakan di Seksi 1 memberikan kesempatan pada dirinya untuk bertemu dengan kader-kader organisasi lainnya yang belum sempat diamankan. Sebagai orang yang diserahi tugas dan tanggungjawab mengatur dapur maka dirinya menyempatkan diri untuk ke pasar guna membeli segala keperluan yang dibutuhkan. Kesempatan ini tidak disia-siakan. Dirinya selalu menyempatkan diri untuk bertemu dengan kader organisasi wanita lainnya guna meyakinkan dan menenangkan mereka. Segala bentuk tanggungjawab aktifitas organisasi telah diambil alih oleh ketiga Srikandi pimpinan. Maka apabila ada diantara anggota-anggota tersebut yang diamankan ataupun dimintai keterangan oleh aparat, hendaknya mereka menyatakan bahwa segala bentuk tanggungjawab organisasi telah diambilalih oleh ketiga pimpinan mereka. Anggota tidak tahu menahu tentang persoalan organisasi, yang mereka tahu hanyalah sekedar ikut-ikutan. Sedikit banyak apa yang beliau lakukan mampu meredam kecemasan yang muncul dikalangan akar rumput dan sedikit banyak juga mampu menghentikan proses masif penangkapan di Jatinom. Aparatus mulai mengurangi operasi penangkapan dan pengamanan kepada mereka yang dituduh sebagai anggota Gerwani. Sedikit demi sedikit situasi mulai bisa dikendalikan dan para anggota Gerwani lainnya mulai terbebas dari kecemasan sehingga berpengaruh terhadap redamnya gejolak konflik yang terjadi di tengah masyarakat.

Enam bulan lamanya dia dipekerjakan di Seksi 1 sebelum akhirnya diminta oleh Komandan Kompi B yang bernama Sudarno untuk menjadi Asisten Rumah Tangganya di Cilacap. Maka kehidupan baru dijalaninya di Cilacap. Sebagai asisten rumah tangga, dirinya menjalani hidup selayaknya asisten rumah tangga lainnya seperti yang ada di sinetron. Perlakuan keras, kasar menjurus penistaan diterima dari Sang Ibu majikan yang mungkin dibakar rasa cemburu. Meskipun secara pribadi Pak Sudarno Komandan beserta ibu kandungnya memperlakukan dirinya selayaknya saudara sendiri, namun jika mengingat perlakuan kasar dari istri Pak Sudarno membuatnya dirinya hancur. Singkat cerita, enam bulan lamanya beliau menjalani kerja di Cilacap sebelum akhirnya diambil dan dibebaskan oleh Kakaknya, Marjuki, sebagai anggota Yonif Zipur IV Angkatan Darat, Magelang yang baru pulang bertugas dari perbatasan Kalimantan. Saat itu Indonesia sedang terlibat konfrontasi dengan Malaysia dan Pak Marjuki masuk dalam jajaran Korps Militer yang dikirim ke perbatasan.     

Beberapa bulan setelah kembali ke desa, dirinya dipinang dan dijodohkan dengan seorang tentara bernama Pratu Paidi asal Lampung yang saat itu sedang bertugas di Klaten. Dirinya melaksanakan pernikahan pada Februari 1967. Ada kesepakatan tak tertulis sebelumnya antara Ibu Kasinem dengan Pratu Paidi bahwa Bu Betet boleh diperistri dengan catatan tidak boleh dibawa kemana-mana. Bu Betet boleh diperistri asalkan dia tidak dibawa mengikuti tempat penugasan suami. Artinya dirinya kemudian masih bisa tinggal di Jatinom dan berkesempatan untuk mengurus segala keperluan kedua kakaknya yang jadi tahanan politik. Setengah bulan sekali beliau menjenguk kedua kakaknya sambil membawa bingkisan. Meskipun sudah bersuamikan seorang Tentara, namun suara-suara miring terhadap dirinya belum sepenuhnya menghilang. Tuduhan memberikan perlindungan dan menyembunyikan buronan 1965 terus menderanya. Meskipun sebenarnya dirinya tidak perduli dengan suara-suara sumbang tersebut. Bagaimanapun juga, sebagai satu-satunya anak yang terselamatkan dari penjara Orde Baru dan mulai menjalani kehidupan keluarga yang baru, dirinya juga harus berpikir bagaimana menghidupi dapur keluarga. Ekonomi keluarga harus bergerak dan dijalankan, dan kesempatan telah lama hadir.

Sekedar mengurus dekorasi beralih menjadi ahli tata rias sekaligus menyediakan dan menyewakan segala perabotan yang dibutuhkan bagi orang yang punya hajatan. Dirinya mulai melangkah dengan niat bukan untuk mencari penghidupan dan kekayaan, namun lebih untuk membantu pada sesama yang sedang membutuhkan. Rewang istilahnya. Kerja gotong royong bukan untuk mencari keuntungan materi semata namun lebih untuk memperluas dan memperkuat ikatan kekeluargaan. Sehingga tidak mengherankan jika dirinya yang mendominasi tata rias se Jatinom selama hampir 30 tahun lamanya, tak ada materi yang cukup menonjol pada dirinya.

“Mbok” demikian panggilan Bu Betet kepada ibunya, ”tolong kasih saya uang untuk beli kain” pinta nya.

“Buat apa///”

“Buat beli kain, buat beli peralatan dekor. Syukur-syukur saya bisa dapat rejeki dari dekor. Kalaupun tidak dapat rejeki dari situ, katakan sebagai rewang” pinta Bu Betet.

“Kok suara-suara tentang PKI yang ku dengar di masyarakat tidak mengenakan telinga. Aku ingin membuktikan bahwa PKI itu tidak seperti apa yang mereka katakan atau mereka tuduhkan” lanjut Bu Betet.

Bukan memulai hidup baru, tapi lebih tepatnya melanjutkan kehidupan yang sudah ada bagi Ibu 4 anak ini. Peralatan tempur disiapkan, peluru telah disiagakan. Tinggal menunggu waktu. Di mulai dari tetangga terdekat, jasa dan keahlian dirinya sebagai ahli tata rias dan dekorasi mulai dibutuhkan oleh masyarakat. Dari tetangga satu ke tetangga lain, dari satu desa ke desa lain, dari mulut satu ke mulut yang lain, dari kelompok satu ke kelompok lain. Seiring dengan waktu masyarakat mulai memberikan kepercayaan akan keahlian beliau. Bukan hanya dari mereka yang selama ini segaris dan sejalan dalam organisasi, dari masyarakat yang selama ini mencibir dan mendeskriditkan/memojokan beliaupun mulai berdatangan membutuhkan jasa beliau. Bagi mereka yang segaris dan sejalan bermakna penguatan namun bagi mereka yang sebelumnya berseberangan bermakna penghancuran sekat-sekat pemisah. Masyarakatpun mulai berdatangan untuk memanfaatkan jasa yang ia tawarkan, jasa tata rias dan jasa sewa perabotan hajatan. Bukan hanya untuk kebutuhan hajatan pernikahan atau sejenisnya, hajatan peringatan keagamaanpun membutuhkan jasa beliau. Ketika undangan berasal dari teman seorganisasi, dirinya berkesempatan untuk mengkonsolidasikan dan meyakinkan kembali para kader-kadernya bahwa apa yang terjadi bukanlah kesalahan mereka. Hingga secara perlahan para kader bisa pulih dari trauma.

Namun ketika undangan itu berasal dari orang-orang yang selama ini berseberangan bahkan sinis terhadap dirinya, berarti penghancuran. Penghancuran terhadap kebekuan proses berkomunikasi, penghancuran terhadap adanya sekat-sekat pemisah yang hadir diantara mereka akibat geger 1965. Mencairnya proses komunikasi yang timbul bisa bermakna penghancuran terhadap persepsi dan pandangan yang salah terhadap dirinya secara personal maupun organisasi pada umumnya. Penghancuran sekat-sekat pemisah sekaligus bermakna perluasan jangkauan kerja secara kewilayahan/teritorial maupun penghancuran akibat perbedaan adanya sekat-sekat strata sosial. Lintas teritori sekaligus lintas strata. Meskipun hampir 20 tahun lamanya dirinya mampu mendominasi dunia tata rias penganten dan dekorasi se Jatinom, namun bukan berlimpahnya harta yang ia peroleh. Dengan prinsip “rewang” tak banyak harta kekayaan harta yang bisa ia peroleh, namun dirinya memperoleh “kekayaan dalam bentuk lain” yang memang jadi prinsipnya.  

Orang hidup itu kalau dirinya berguna bagi sesama, maka itulah orang hidup. Kalau tidak berguna bagi sesama, maka itu hanyalah hidup-hidupan. Ibadah itu apa kalau tidak memikirkan sesama, apa itu ibadah/ bukankah ibadah itu hubungan kita dengan Tuhan/

Bukan hanya sekedar rias penganten yang kemudian bisa dijadikan pijakan ekonomi atau pijakan sosial bagi diri dan keluarganya, namun aktifitas ekonomi di Pasar Jatinom pun dijalaninya. Di pasar ini dijalani dengan berdagang pakaian, berdagang perabotan dapur hingga jual beli emas. Beliau mampu menghidupi dan menafkahi 20 orang karyawan yang bekerja padanya. Keluwesan pergaulan dalam menjalankan dunia tata rias menjadikan dirinya mampu menembus pergaulan baik dikalangan atas maupun akar rumput yang kemudian dijadikan modal sosial dalam menjalankan kegiatan ekonomi di pasar. Munculnya kepercayaan dari kalangan atas, menjadikan dirinya mendapatkan kemudahan untuk memperoleh barang terlebih dahulu tanpa harus membayar di muka, sementara pemasaran barang ia peroleh lewat pergaulan di akar rumput. Bagaikan “tumbu oleh tutup”, Gayung Bersambut. Dua dunia berbeda berhasil ia satukan untuk menjadi sebuah keuntungan bagi dirinya dalam menabuh genderang peperangan. Meskipun apa yang diperolehnya dari dua dunia ekonomi tersebut terbatas, namun dirinya meresa sudah memperoleh kemenangan. Kemenangan sosial lebih penting daripada kemenangan ekonomi.

Bukan kelimpahan ekonomi namun lebih tepatnya kecukupan ekonomi lah yang berhasil ia raih. Dan semua itu bukan ia abdikan untuk diri dan keluarga semata namun juga ia sisihkan bagi sesama. Terutama kepada mereka yang membutuhkan. Sebagai orang yang mengerti betul akan arti pentingnya pendidikan, dirinya tidak rela manakala menyaksikan ada anak yang putus sekolah. Maka tidak segan-segan dirinya memberikan bantuan guna melanjutkan pendidikan anak tersebut. Dalam sebuah tulisannya dia memaparkan:

“Benar-benar saya tidak rela kalau anak-anak sampai putus sekolah. Waktu usahaku maju /dagang pakaian, bolo pecah belah, emas-emasan kalau ada yang memesan/ dekorasi, rias, menjahit, tidak sedikit anak yang saya tolong untuk sekolah. Baik berasal dari keluarga dekat maupun orang lain, baik hanya sekedar omongan, tenaga maupun biaya semampu saya” tulisnya.

  Sebagai seorang Ibu dari empat anak, seringkali dunia kepemudaanpun ia jamah. Tak segan-segan beliau mengumpulkan puluhan anak muda di rumah hanya untuk memberikan pelajaran dan penyadaran bagi mereka-mereka yang yang sebelumnya terlibat dalam dunia kriminalitas hingga mereka yang terjebak dalam minuman keras. Dikumpulkannya pemuda-pemuda tersebut di rumahnya untuk memberikan penyadaran dengan cara tersendiri. Difasilitasi segala hobi minum-minuman keras mereka hingga beberapa hari lamanya sambil terus memberikan penyadaran. Hingga akhirnya mulai muncul kesadaran dari para pemuda tersebut akan tidak berartinya minuman keras bagi kehidupan dan mulai merubah cara hidup. Ia memaparkan:

Saya berusaha mengantisipasi bahkan kalau bisa menghilangkan kenakalan remaja, terutama narkoba, mencuri, menipu hingga minum-minuman keras. Dengan cara saya dekati, saya kumpulkan di rumah saya. Mereka saya fasilitasi dari makan, bahkan hingga minum-minuman keras sampai mereka mabuk. Berhari-hari mereka melakukan itu di rumah saya. Namun saya sebelumnya sudah berbicara dengan seorang Polisi yang sudah saya kenal sebelumnya. Setelah fakta kongkret kelakuan mereka baru saya ngomong dengan rasa kasih sayang. Tidak ada rasa benci kepada mereka. Lama-lama banyak yang bisa menerima. Sedikit demi sedikit bisa meninggalkan kebiasaan itu. Ada yang jadi pengamen, ada tukang parkir, pedagang, karyawan, banyak yang sukses hidupnya. Sampai-sampai saya dijuluki Komandan Preman julukan yang berbeda 180 persen terbalik pada era sebelum 1965 sebagai Srikandi Jatinom. Saya dikata-katai orang diluar desa bahwa saya nggak punya anak” tulisnya.

Bagaimanapun juga itulah seninya kehidupan, seni hidup bermasyarakat. Apalagi ada ditengah-tengah masyarakat yang terbawa arus konflik horisontal, suara-suara sumbang adalah sebuah keniscayaan atas reaksi dari aksi/tindakan yang kita lakukan. Selama semua itu dilakukan dengan niat berbuat baik pada sesama, selama itu pula suara-suara sumbang itu biar mengalir sebagaimana mestinya. Ibarat Anjing Menggonggong, Kafilah tetap Berlalu

Kastinah Menggoreng Peyek

“…“SekBer’65 adalah lembaga yang mendapat kepercayaan dari pemerintah untuk menyampaikan program layanan bantuan medis, psikologis dari LPSK. Dengan bantuan kesehatan ini korban sangat terbantu, karena kondisi ekonominya lemah dan tidak mampu pergi berobat dengan dana sendiri. Dalam pertemuan-pertemuan dengan SekBer’65 di wilayah Klaten, pengurus selalu menerangankan apa yang telah dikerjakan dan dilakukan oleh SekBer’65 untuk mendorong proes penyelesaian tragedi 65/66. …”

Bendera Telah Dikibarkan

Ibarat seorang petugas upacara bendera, dirinya telah berhasil mengibarkan bendera ke tiang setinggi-tingginya. Bendera telah berkibar, pantang untuk diturunkan kata Megawati. Lima puluh tiga tahun sudah persitiwa itu berlalu, namun selama lima puluh tiga tahun pula peristiwa itu tidak pernah diakui sebagai sebuah tragedi manusia dan kemanusiaan di Indonesia. Hingga kini, masyarakat terutama anak-anak muda yang lahir pasca era reformasi 1998 tidak pernah mengenal sejarah tersebut. Masih menjadi misteri dan tidak layak diungkap di publik. Secara sistematis, bergantinya pemerintahan yang satu ke pemerintahan yang lain semenjak era reformasi belum mampu menyingkap tabir masa kelam perjalanan bangsa ini. Bagi sebagian masyarakat, peristiwa 1965 dan tragedi kemanusiaan yang menyertainya tidak perlu dibuka dan dibeberkan daripada membuka luka lama.

“Indonesia itu sudah tidak memiliki sejarah, punyanya hanya dongeng. Kalau sejarah itu fakta nyata, kalau dongeng akan tergantung siapa pendongengnya” ujar Bu Betet.  

Dalam usia yang tergolong usia nenek-nenek, dirinya masih saja belum menyerah pada raga tubuh yang masih kelihatan lincah. Selama nyawa masih dikandung badan, selama itu pula dirinya akan terus bergerak, akan terus mengepakan sayap serta mengibarkan bendera. Ketika Gempa melanda Yogyakarta di tahun 2007 dirinya bergabung dengan GRI/Gerakan Rakyat Indonesia untuk memberikan bantuan kemanusiaan. Bahkan team relawan GRI dimana beliau bergabung sempat mengundang relawan medis asal Cuba untuk memberikan bantuan kesehatan secara cuma-cuma. Begitu juga halnya ketika Erupsi Merapi yang juga berdampak di Klaten, dirinya bersama-sama dengan relawan lain sempat menampung 1.300 pengungsi selama 10 hari lamanya. Relawan di Desa Krajan, Kecamatan Jatinom, Klaten termasuk salah satu tempat yang nyaman bagi pengungsi dikarenakan kenyamanan tempat dan bantuan yang termasuk lancar. Di tempat pengungsian ini tak ada komplain dan keluhan yang mucul dari para pengungsi.

Pernah dirinya membuka kantor Asuransi Bumi Putra di Kecamatan Jatinom dan Kecamatan Tulung, Klaten dengan memiliki agen sebanyak 24 orang. Hingga saat ini dirinya masih aktif dan sering terlibat dalam paduan suara gereja hingga mendapat julukan sebagai Mudika sepanjang massa. Untuk bidang kesenian, dirinya juga tak segan-segan untuk melibatkan diri dalam pementasan keroncong, laras madya, karawitan. Dengan berbekal kasih saying dan rasa keibuan tidak aneh kalau dirinya sempat dijadikan sebagai perantara Tuhan untuk menolong orang yang sakit stress, gila hingga bertelanjang. Berkat sentuhan kasih sayang pada akhirnya kedua orang tersebut sembuh kembali normal sebagai orang yang sehat.

“apa arti sisa hidup saya kalau tidak untuk menunjukan kebenaran. Bahkan Soekarno menyatkan Jas Merah, jangan sekali-kali meninggalkan sejarah” sebuah spirit yang hingga kini mampu memberikan energi tersendiri bagi beliau. Maka tidak aneh jika kita melihat diusia yang cukup senja, aktifitasnya masih seperti kala muda. Sejarah harus diungkapkan, Sejarah herus dibeberkan.  

“ Kusadari betapa sulitnya seorang istri tentara yang masih aktif untuk mewujudkan janji batinnya yang terpendam sejak tahun 1965. Namun demikian aku tak patah arang, aku akan terus berjuang untuk kebenaran,” ungkapnya. Apa yang pernah disaksikan di masa lampau telah melecutnya untuk terus maju agar nama mereka dibersihkan atau direhabilitasi. Supaya lebih terarah dan maju, maka perlu organisasi sebagai alat perjuangan. Maka dengan langkap yang mantab, Sumiyati menjadikan SekBer’65 sebagai rumah untuk berjuang. “SekBer’65 adalah lembaga yang mendapat kepercayaan dari pemerintah untuk menyampaikan program layanan bantuan medis, psikologis dari LPSK. Dengan bantuan kesehatan ini korban sangat terbantu, karena kondisi ekonominya lemah dan tidak mampu pergi berobat dengan dana sendiri. Dalam pertemuan-pertemuan dengan SekBer’65 di wilayah Klaten, pengurus selalu menerangankan apa yang telah dikerjakan dan dilakukan oleh SekBer’65 untuk mendorong proes penyelesaian tragedi 65/66.  Dengan Program #bettertogether yang diusung Sekber,65 dengan dukungan dari IKa (Indonesia Untuk Kemanusiaan) dan VOICE ini semakin membuatku yakin akan langkahku terjun ke masyarakat. Harus membuka diri dan berani bertemu dengan keluarga dan masyarakat. Kepada kawan-kawanku, marilah bergabung di SekBer’65, kita menyatukan perjuangan kita.

Sebagai penutup untaian peristiwa ini saya berpesan utamanya untuk generasi muda “Penderitaan jangan diratapi karena menyakitkan, namun hendaklah dihayati akan INDAH rasanya” Seberat atau sejelek apa yang kita terima adalah KEMULIAAN TUHAN yang diberikan kepada kita, tinggal bagaimana kita menyikapinya. Tuhan selalu beserta kita sepanjang masa. Amin


Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published.